Enter your keyword

post

SMP ISLAM TAHFIDZ QURAN SIAP HADAPI NEW NORMAL

SMP ISLAM TAHFIDZ QURAN SIAP HADAPI NEW NORMAL

PONDOK PESANTREN DZIKIR AL FATH | SMP ISLAM TAHFIDZ QURAN AL FATH Di kota sukabumi sudah menyiapkan diri untuk menghadapi new normal menghadapi pandemi Corona virus disease (Covid-19). Salah satunya akan membuka pesantren dengan protokoler kesehatan sesuai aturan pemerintah . Hingga menyiapkan sarana prasarana untuk menjaga kesehatan & kebersihan anak anak dan lingkungan Sekolah.

Pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath KH M Fajar Laksana mengatakan, pihaknya siap melaksanakan aturan dalam menegakkan protokol kesehatan di lingkungan pesantren.

“Sebelum memasuki pondok dicek kesehatan ketat. Kita wajibkan bermasker, bahkan terus menyosialisasikan pencegahan penyebaran Covid-19, dan KH Fajar menjelaskan kondisi santri belajar di pondok pesantren tidak seperti sekolah umum yang biasanya masuk pagi pulang sore. Melainkan segala aktivitas, mulai dari pagi hingga pagi lagi tetap berada di lingkungan pondok, tidak ke mana-mana jadi bisa di kontrol dan dijaga kebersihan dan kesehatannya.,” katanya.

Baca juga : PESANTREN TAHFIDZ QURAN TERBAIK DENGAN SISTEM PEMBELAJARAN MODERN

Bagi santri yang berasal dari luar daerah maupun dari wilayah zona merah, Pihak sekolah akan melakukan penanganannya lebih ketat. Para santri harus membawa surat keterangan sehat. Setibanya di pesantren harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Jika dalam masa isolasi tersebut ditemukan gejala maka harus melakukan rapid test.

Lalu Kh Fajar menambahkan “Kami biasakan olahraga, menyediakan makanan bergizi serta akan minum suplemen vitamin setiap hari. Kita yakin bisa menerapkannya,” imbuh dia.

Dan Pondok Pesantren kita juga sudah bekerja sama dengan BIN ( Badan Intelejen Negara ) Dalam mengahadapi New Normal ini

Pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath KH M Fajar Laksana, mengungkapkan, banyak pelajaran akhlak yang tidak dapat disampaikan secara online, salah satunya praktek ibadah Salat. Selain itu, saat ini orang tua santri pun sudah cukup khawatir. “Harapan orang tua agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan agama di pesantren menjadi terganggu ,dan santri lebih banyak meluangkan waktu berkumpul tanpa kegiatan yang jelas,” kata KH Fajar Laksana

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Live Chat